Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Desember 2011

Dinas Pertanian dan Peternakan

Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Polewali Mandar (Polman) memiliki dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp3,6 miliar. Dana ini akan digunakan untuk peningkatan produksi pertanian dan peternakan.

Kepala Distanak Polman Basir Halim mengatakan, fokus peningkatan produksi pertanian diarahkan pada pembukaan jalan usaha tani, normalisasi dan pembukaan jaringan irigasi, pengadaan mesin penggarap sawah, serta mesin penggilingan gabah. Menurutnya, anggaran DAK kali ini sebagian besar diarahkan pada peningkatan produksi pertanian. Sebelumnya telah dialokasikan untuk peningkatan produksi peternakan.

Kendati demikian, sebagian DAK masih ada untuk bidang peternakan. “Khusus untuk bidang peternakan hanya difokuskan pada optimalisasi rumah potong hewan (RPH) yang saat ini dianggap belum berjalan normal, yakni sekitar 20% dari total anggaran,” ungkapnya.

Pada dasarnya DAK yang diterima Distanak sebesar Rp5,1 miliar, tapi Rp1,5 miliar di antaranya mengalir kepada Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Dishutbun) dan Badan Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan (BP2KP) yang juga memiliki program khusus pada masing-masing bidang.

“Dari anggaran yang diserahkan tersebut, Rp1 miliar di antaranya diserahkan kepada Dishutbun dan Rp500 kepada BP2KP Polman. Hal itu dengan harapan menunjang kinerja penyuluh lapangan yang selama ini dianggap juga membutuhkan dukungan anggaran maksimal,”paparnya.

Dinas Perhubungan

Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Sulawesi Barat melakukan sosialisasi Undang- Undang No22/1999 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) di Majene, kemarin. Dalam sosialisasi itu seluruh kendaraan yang melintas tak luput dari pemeriksaan. Setelah ditemukan kekurangan alat kelengkapan kendaraan, diberikan pemahaman dan pembinaan.

Yang paling banyak ditemukan adalah tak memiliki alat pemadam kebakaran, kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), dan segitiga pengaman,” kata penyidik pegawai negeri sipil Dinas Perhubungan Provinsi Sulbar Darwan.

Pada sosialisasi yang dikemas dalam operasi itu juga ditemukan beberapa kendaraan yang uji dan izin kendaraannya kedaluwarsa. Sosialisasi yang dilakukan ini mendapat kritikan masyarakat. Pasalnya, operasi itu menimbulkan kemacetan. Kemacetan terjadi karena tempat operasi berada satu tempat dengan lokasi pembersihan selokan dan bahu jalan oleh Dinas Perumahan Permukiman dan Kebersihan (Disperkimber) Kabupaten Majene.

Kabid Perhubungan Darat Ahmad berkilah bahwa rencana operasi akan dilaksanakan di depan terminal baru di Lutang. “Ternyata kami diarahkan ke sini (terminal lama) karena kondisi jalan dalam terminal tidak memungkinkan,”papar dia.

Minggu, 22 Mei 2011

GARIS tangan seseorang memang sulit ditebak

GARIS tangan seseorang memang sulit ditebak sehingga sangat cocok sebuah dalil yang menyebutkan, “kematian, rezeki, dan jodoh seseorang, hanya Tuhan yang tahu”. Begitupun yang dialami Anggiat Sinaga, General Manager Grand Clarion Hotel.

Siapa sangka saat masih remaja, dia sempat menjadi seorang loper koran. Kegiatan itu dihabiskannya di Manado, saat dia memberanikan diri meninggalkan kampung halamannya di Asahan, Sumatera Utara. Niat awalnya merantau ke Sulawesi Utara untuk mencari pengalaman dan mencoba mandiri.

Padahal di kota itu,dia sama sekali tidak memiliki sanak famili. “Saat itu hanya mempunyai ijazah SMA,jadi tidak ada perusahaan yang tertarik menggunakan tenaga saya.Suatu hari saya bertemu loper koran.Saat itu juga saya menawarkan diri menjadi pengantar koran.Dengan sepeda cicilan, saya mengantar koran ke pelanggan,”kata dia.

Namun, cerita tidak berakhir di situ. Suatu pagi saat mengantar koran ke rumah salah seorang pelanggan,sepeda yang ditinggal di luar pagar tiba- tiba saja raib entah ke mana. Padahal saat itu,cicilan kendaraan itu belum lunas. Pelanggan yang merasa iba dengan kejadian itu langsung menawarkan bantuan berupa uang agar Anggiat membeli sepeda baru.

Anehnya, bantuan tersebut justru ditolak alumnus Sekolah Menengah Atas (SMA) di Medan itu. Selain menjadi loper koran, dia pun sempat jadi pengisi bensin di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tukang taman, dan pencatat meteran listrik. “Yang ada hanya keinginan kuat bertahan hidup dari keringat sendiri.

Sebetulnya saya pernah bercita-cita jadi pengacara. Beberapa kali mendaftar di perguruan tinggi negeri,tapi saya tidak pernah diterima.Saya malah berkarier jadi profesional di bidang perhotelan setelah kuliah di Akademi Perhotelan Manado. Pengalaman yang dialami saat itu membuat diri makin kuat,” kata Ketua PHRI Sulsel itu. Demikian catatan online blog Type Approval Indonesia yang berjudul GARIS tangan seseorang memang sulit ditebak.

Minggu, 27 Maret 2011

Penabrak ajudan Susno Duadji

Akhirnya pihak kepolisian menetapkan tersangka kasus penabrak ajudan Susno Duadji, almarhum Bripka Dony Rahmanto. Seorang dokter yang menolong Doni ketika musibah kecelakaan itu terjadi, justru resmi dijadikan tersangka akibat kelalaian mengendarai mobilnya.

"Dr Caroline Lazuardi resmi menjadi tersangka pada kasus penabrak Bripka Dony Rahmanto," ujar Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Jakarta Timur, Kompol Sudharsono, kepada VIVAnews.com, Minggu 27 MAret 2011.

Sudharsono menjelaskan, setelah mewawancari beberapa saksi mata (lebih dari satu orang saksi), kemarin kepolisian menentukan bahwa Caroline sebagai tersangka. Ia dijerat dengan pasal 359 KUHP, dan terancam dengan hukuman maksimal hingga 5 tahun penjara.

Bripka Dony Rahmanto adalah anggota Gegana, Brimob, Mabes Polri, yang pernah menjadi pengawal Komjen Susno Duadji. Ia merupakan saksi meringankan bagi Susno Duadji, mantan Kabareskrim yang membongkar kasus korupsi di tubuh kepolisian, namun akhirnya divonis 3,5 tahun penjara atas tindak pidana korupsi.

Dony ditabrak, pada Rabu 9 Maret sekitar pukul 7.50 WIB, saat mengendarai motor Yamaha Mio di Jl DI Panjaitan Cawang Jakarta Timur, menuju Tanjung Priok. Dokter Caroline, orang yang menabrak Dony, kemudian membawa korban ke Rumah Sakit UKI, Cawang. Tapi sayang, nyawa Doni tak tertolong.

Kecurigaan menyeruak karena sebelum Dony meninggal dalam kecelakaan tersebut, pada 16 Oktober 2010, mantan Sekretaris Pribadi Susno Duadji, Inspektur Dua Anjar Saputro, juga tewas akibat kecelakaan di Jalan Raya Bogor.

Namun, sejak awal Polri menegaskan bahwa tewasnya Doni murni akibat kecelakaan lalu lintas yang tidak disengaja. Kapolri Timur Pradopo mengatakan bahwa kecelakaan ini tidak ada kaitannya dengan kasus Susno Duadji. Demikian catatan online Type Approval Indonesia tentang Penabrak ajudan Susno Duadji.

 
 
Copyright © 2013 Type Approval Indonesia All Rights Reserved
Alomeci